10 Ribu Warga Tumpah Ke Arena Utama Irau Malinau

 

logo irau 8 malinau ke 15Pesta budaya Irau menjadi peristiwa budaya fenomenal dan bersejarah serta menjadi tradisi bagi masyarakat etnis Dayak. Karena itu, selalu disambut dan dirayakan. Irau akan berlangsung 12 hari. Kebesaran pesta budaya komu-nitas masyarakat adat etnis Dayak ini sudah terlihat dalam acara pembukaan pada Rabu (15/10) kemarin. Lebih 10 ribu warga tumpah ke arena utama Irau di alun-alun kantor bupati Malinau.

Penjabat Gubernur Kaltara, H Irianto Lambrie mengungkapkan Irau dan berbagai kegiatan menjadi momentum untuk tanamkan nilai luhur budaya bangsa yang dapat berkontribusi positif terhadap pembangunan karakter masyarakat. Terutama generasi muda yang saat ini berada di lingkaran zaman yang berpotensi mengancam masa depan mereka.

“Yang penting adalah, untuk ting-katkan hubungan silaturahmi bangsa melalui keanekaragaman budaya yang ditampilkan dalam Pekan Budaya Irau. Selain itu, dapat jadi agenda wisata yang tidak hanya dapat dinikmati masyarakat lokal, tapi lebih dari itu dapat dinikmati masyarakat nasional dan dunia internasional,” ungkap Irianto dalam sambutan, kemarin.

Yang patut diapresiasi, dari ribuan warga yang hadir, sebagian adalah mereka yang selama ini terasing di kedalaman rimba. Mereka adalah masyarakat Apo Kayan dan Bahau Hulu di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia serta pedalaman hutan Mentarang. Ribuan warga pedalaman itu telah datang sepekan sebelum pembukaan Irau. Dari kecamatan perbatasan, puluhan longboat me-luncur membawa masyarakat ke Ibukota. Demikian juga dari Menta-rang. “Kami harus menempuh empat hari perjalanan untuk tiba di Ibukota,” terang Mathias, satu dari sekian banyak warga Pujungan yang datang.
Pada karnaval budaya nusantara yang jadi acara pembuka, warga menampil-kan kekayaan dan keunikan budaya mereka.

Seperti warga Lundayeh yang selama ini bermukim di Mentarang dan Mentarang Hulu, kemudian etnis Kenyah yang datang dari Pujungan dan Apo Kayan, tak terkecuali warga adat Kayan berasal dari Bahau Hulu serta adat adat Punan, Tagol dan Tinggalan.
Tak mau ketinggalan, lembaga atau paguyuban etnis di Malinau juga ambil bagian. Paguyuban Keluarga Jawa (Pakuwaja), Kerukunan Keluarga Banjar, Sulawesi, termasuk kerukunan Batak dari Sumatera dan Nusa Tenggara. Karnaval Budaya dijadikan acara pembuka Irau dan menjadi peristiwa budaya yang patut dikenang.
“Ini jadi bukti bahwa kita punya kekayaan budaya. Ini potensi dan bisa dijadikan kekuatan untuk membangun. Bukan hanya untuk Malinau, bahkan untuk bangsa Indonesia,” tegas Bupati Malinau, Yansen TP kepada Koran Kaltara, disela-sela pembukaan.

Selain semangat menjunjung tinggi kekayaan dan keluhuran budaya, karnaval budaya Irau digelar untuk mengukuhkan semangat keber-samaan dan kesatuan. Ditegaskan Yansen, melalui Irau dan karnaval budaya, pemerintah ingin katakan bahwa Malinau dan negeri ini harus jadi rumah bagi setiap kelompok dan golongan, hidup bersama dan berdampingan dalam keharmonisan. Selain itu, mengembangkan kehi-dupan, ekonomi dan budaya masing-masing. “Tidak perlu lagi ego. Siapa lebih bagus, siapa lebih berkuasa, siapa mayoritas dan siapa minoritas. Malinau dan negeri ini adalah tempat kita semua,” harap Yansen. (Koran Kaltim)

(Visited 118 times, 1 visits today)
Tags:

Leave a Reply