Cara Yang Paling Tepat Menggunakan Uang Elektronik (e-money)

Belakangan, Bank Indonesia memang mendorong penggunaan e-money alias uang elektronik untuk mengurangi peredaran uang tunai. Harapannya, e-money bisa mengurangi biaya cetak uang yang mahal dan meningkatkan efisiensi transaksi.

Alhasil, penggunaan e-money memang meningkat pesat. Berdasarkan data BI, tahun 2003, volume transaksi e-money di Indonesia mencapai 137,9 juta transaksi melalui 36,2 juta kartu dengan nominal uang yang beredar adalah Rp 2,9 triliun. Padahal, saat awal peluncuran e-money tahun 2007, volume transaksi baru 586.000 transaksi melalui 165.100 kartu dengan nilai nominal Rp 5,26 miliar.

Tahun ini sampai Juli lalu, jumlah transaksi e-money mencapai 96,2 juta transaksi melalui 32,4 juta kartu dengan nominal Rp 1,94 triliun.

Bagi yang belum tahu, e-money gampangnya adalah uang yang digunakan dalam transaksi dengan cara elektronik. Uang ini disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang. Nilainya terserah orang tersebut. Ia tinggal mengisi atau mentransfer sejumlah uang ke e-money tersebut sebelum dipakai untuk transaksi. “E-money dapat digunakan untuk berbagai macam jenis pembayaran,” ujar Indra.

Ada beberapa kelebihan e-money dibanding uang fisik. Pertama, Anda bisa melakukan berbagai transaksi tanpa membawa banyak uang fisik. Kedua, Anda bisa melakukan transaksi lebih cepat karena tinggal mengurangi nilai di e-money sesuai dengan nilai transaksi, tak perlu menghitung berlembar uang. Ketiga, “Slip dari mesin EDC (electronic data capture), yang digunakan untuk proses tapping, juga bisa menjadi dokumentasi transaksi kita sehingga memudahkan monitoring ke mana saja uang dibelanjakan,” ujar Budi Raharjo, One-Shildt Financial Planning.

Namun, ada juga kekurangan e-money. Pertama, belum semua transaksi bisa memakai e-money karena e-money baru bisa dipakai di merchant yang bekerja sama dengan penerbit.Kedua, risiko seluruh uang hilang ketika pengguna kehilangan kartu atau piranti yang dipakai menyimpan e-money. “Selain itu, jika disimpan di e-money, uang kita sebenernya tidak berbunga sehingga kalau bagi orang yang mengerti investasi, ini termasuk hal yang merugikan, apalagi, ada beberapa penyedia kartu yang mengenakan charge,” ujar Budi.

Dari kacamata perencanaan keuangan, Chairman One-Shildt Financial Planning Risza Bambang mengatakan, e-money bisa kita anggap sebagai versi digital dari sistem anggaran amplop. Jadi, begitu menerima gaji, Anda sekarang bisa langsung membaginya ke dalam amplop-amplop yang berwujud e-money. Anda bisa membagi amplop-amplop digital ini sesuai dengan keperluan Anda, misalnya amplop untuk bayar tol, amplop untuk biaya transportasi umum, amplop untuk pembayaran berbagai tagihan rumahtangga.

Risza menyarankan, jangan terlalu banyak mengisi uang elektronik. Sebab, e-money mesti Anda fungsikan untuk membatasi pengeluaran. Apalagi, bila kartu hilang, uang Anda juga ikut hilang. Saran dia, uang yang diletakkan di kartu ini tidak lebih dari Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan. Bahkan, financial planner dari First Principal Fauziah Arsiyanti tidak menyarankan menaruh uang lebih dari Rp 1 juta.

Anak yang belum terbiasa mengelola anggaran keuangannya, menurut Fauziah, jangan dulu diberi e-money. Orangtua harus mengajari prinsip budgeting terlebih dulu sebelum memberi e-money ke si anak. Untuk pengguna remaja pun, orangtua sebaiknya tidak mengisi langsung senilai Rp 1 juta. “Cicillah uang yang diisi ke e-money anak kita, dua hari sekali atau satu minggu sekali, sesuai dengan kebutuhan dari anak tersebut,” ujar dia.

Sampai Juli 2014, tercatat ada 18 perusahaan yang menjadi penerbit uang elektronik. Namun, e-money tertua justru bukan diterbitkan oleh perbankan. Telkomsel justru pertama kali mendapatkan sertifikasi dari BI pada 2007 untuk menjalankan bisnis e-money. Nama produknya, T-cash. Adapun, pemain terbesar di e-money saat ini adalah

Bank Central Asia (BCA) dengan produk Flazz. Jumlahnya mencapai 5 juta kartu. Di belakangnya, e-money dari Bank Mandiri dengan 3,5 juta kartu prabayar yang beredar, kartu Brizzi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) di urutan ketiga dengan 1,5 juta kartu prabayar yang beredar.

Nah, bagaimana sebaiknya memilih yang tepat buat kita? Berikut beberapa tipnya:
Sesuai kebutuhan
Seiring dengan berjalanannya waktu, fitur yang ada dalam e-moneyjuga mengalami perkembangan. Awalnya, e-money hanya digunakan sebagai pembayaran tiket transportasi publik, pembayaran tagihan, dan tiket masuk tol dan parkir. Selanjutnya, layanan ini bisa digunakan untuk bertransaksi di beberapa merchant dan tempat hiburan.

Agar bisa mengontrol pengeluaran, Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, menyarankan untuk memilih e-money sesuai dengan kebutuhan. Jadi, cek fitur-fiturnya apakah sesuai dengan kebutuhan Anda.

Kemudian, setelah menentukan produk e-money yang sesuai, disiplinlah menggunakan e-money tersebut hanya untuk transaksi yang telah Anda tetapkan. Agar tidak kebablasan, batasi pula nilai dana di dalamnya. Apalagi, bila e-money tersebut akan Anda serahkan kepada anak Anda yang belum punya penghasilan sendiri. “Jangan sampai, anak itu lebih boros jika menggunakan e-money,” kata Risza.

Untuk melakukan transaksi yang lebih besar, sebaiknya tetap pergunakan kartu debet yang mempunyai saldo lebih banyak. Kartu ini lebih aman karena memakai nomor identitas pribadi (PIN).

Risza tidak menyarankan untuk menggunakan layanan e-moneydalam hal pembayaran tagihan. Hal ini karena untuk pembayaran tagihan biasanya biayanya besar dan lebih cocok memakai kartu debit. Pembayaran tagihan dengan menggunakan layanan e-money akan menimbulkan risiko keamanan yang tinggi. Hal ini karena uang yang harus kita isi ulang akan banyak. “Kalau umpamanya terjadi fraud atau mungkin kehilangan kartu, kan, bahaya.”

Namun, Risza masih mentolerir penggunaan e-money untuk pembayaran majalah atau koran secara harian. “Karena hal tersebut kecil nominalnya, jadi masih relatif aman,” ujar Risza.
Pilih yang jangkauan luas, layanan baik
Hal yang kadang menyusahkan adalah pengisian ulang e-money. Sebab, seringkali pengisian ulang ini hanya bisa dilakukan lewat ATM bank-bank tertentu atau merchant-merchant yang telah bekerjasama dengan si penerbit.

Jadi, sebaiknya Anda juga jeli mencermati di tempat mana saja Anda bisa melakukan pengisian ulang atau pencairan dana di e-money Anda. Jangan sampai, Anda dibuat kesal karena sudah mencoba mengisi di suatu ATM atau merchant, yang Anda kira bisa, ternyata tidak bisa dilakukan.

Terkait jangkauan dan kualitas layanan ini, Fauziah lebih menyarankan pemakaian e-money yang diterbitkan oleh perbankan. Sebab, jangkauan bank saat ini sampai ke pelosok-pelosok. Selain itu, mereka juga sangat memperhatikan keamanan dan ketangguhan sistem.
Fitur beragam
Pengguna layanan e-money tentunya senang jika kartu e-money yang digunakannya mempunyai banyak fitur yang beragam. Semakin beragam fitur, maka konsumen dapat memilih yang sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, banyak fitur juga memungkinkan si pengguna melakukan lebih banyak transaksi cukup dengan satu produk e-money.

Meski demikian, sebaiknya pengguna e-money juga tetap waspada. Jangan sampai, lantaran banyak fitur, lantas lupa dengan fungsi e-money yang awalnya dipakai untuk pengaturan dan pembatasan anggaran alias budgeting.

Jangan sampai pula, Anda menjadi silap mata lantaran berbagai macam tawaran diskon dan potongan harga. Penyedia layanan e-money baru biasanya menyediakan program promosi seperti ini jika Anda berbelanja di tempat atau merchant tertentu yang bekerjasama dengan penyedia layanan e-money tersebut. Tidak ada salahnya memanfaatkan program promosi seperti ini. Namun, sekali lagi Eko mengingatkan, jangan terlena dengan uang yang dikeluarkan.

Risza menambahkan, fitur yang beragam ditambah dengan integrasi dengan berbagai layanan publik lainnya membuat pengguna e-money loyal. “Penyedia layanan e-money bisa dikatakan hebat jika bisa mencakup tiga layanan sekaligus dalam satu kartu, hal tersebut adalah transportasi, komunikasi dan konsumsi,” ujar Risza.

Namun, menurut Risza, layanan yang terlalu beragam, terutama fitur belanja di berbagai merchant dan swalayan sebenarnya bisa menghilangkan fungsi awal e-money sebagai salah satu upayabudgeting. “Sebaiknya pengguna layanan e-money tidak menggunakan kartunya untuk berbelanja di swalayan atau merchant belanja yang lain karena hal tersebut lebih cocok untuk menggunakan kartu debit,” saran Risza.
Cek biaya tambahan
Pengguna e-money kadang tidak sadar, ketika melakukan transaksi, ternyata ada biaya tambahan atau tambahan harga yang harus dikeluarkan. Nah, terkait dengan hal ini, pengguna e-money sebelum menentukan akan menggunakan layanan e-moneytertentu, sebaiknya memeriksa berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan ketika bertransaksi atau melakukan proses isi ulang. “Jadi, jangan sampai uang di dalam saldo e-money ini terkuras habis utuk membayar biaya administrasi dan bunga yang ada di layanan e-money,” ujar Risza.
Bentuk e-money
Seperti kita tahu, dalam perkembangannya, e-money tidak saja dalam bentuk kartu. Tapi, ada juga yang menggunakan telepon seluler sebagai medianya.

Nah, dalam memilih e-money, menurut Risza, sebaiknya konsumen lebih mengerti kebutuhan mereka sendiri dan mana bentuk e-money yang paling cocok dengan kebutuhannya itu. “Mungkin pilihan ini disesuaikan dengan profil dan kebiasaan dari penggunae-money,” kata dia.

Jika lebih nyaman dengan menggunakan kartu maka pilih e-moneydari perbankan, tapi jika lebih sering menggunakan telepon seluler untuk berbagai pembayaran karena mungkin lebih praktis, maka Anda bisa memilih e-money yang diterbitkan operator seluler.

Nah, selamat memilih e-money yang pas untuk Anda!

(Visited 976 times, 2 visits today)
Tags:

Leave a Reply