Danrem: Mereka Eksodus ke Malaysia Non-Permanen, Karena Masalah Ekonomi

Aparat TNI juga mengendus upaya eksodus warga di Kecamatan Lumbis Ogong, Nunukan ke Negeri Jiran Malaysia. Menurut mereka, eksodus ke Malaysia karena desakan ekonomi, tapi kepindahan mereka tidak bertujuan jadi warga negara Malaysia.

“Bukan eksodus jadi warga negara Malaysia. Tapi, eksodus non-permanen karena kebutuhan ekonomi,” kata Komandan Korem 091/Aji Suryanata Kesuma, Brigjend TNI Nono Suharsono, kepada Koran Kaltim (Koran Kaltara Grup), Kamis (13/11) kemarin.

Ia menerangkan, warga Lumbis Ogong yang pergi ke Malaysia itu terjadi karena desakan kebutuhan sehari-hari, untuk mengolah lahan di Malaysia yang mereka klaim sebagai lahan adat warga setempat. Contohnya, warga Lumbis mengolah lahan menyusul musim kemarau berkepanjangan.
“Kalau musim? normal lagi, mereka (warga Lumbis) kembali lagi ke tempat tinggal mereka,” ujar Nono.

Bahkan, dikatakan Nono sekitar tahun 1965 silam, wilayah perbatasan sempat terjadi konfrontasi dan eksodus besar-besaran warga Lumbis ke Malaysia dan terulang sekitar tahun 1984-1985. Persoalan lahan di Malaysia yang dianggap sebagai lahan adat mereka memang jadi persoalan sejarah panjang. “Mereka ke wilayah Malaysia untuk mengolah lahan,” tegasnya.

Saat ini, lanjut dia, pemerintah RI-Malaysia melalui Joint Border Committee (JBC) sepakat mengemukakan 5 persoalan perbatasan yang jadi persoalan mendasar. Nono sendiri tidak menutup mata bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat setempat dipasok dari Malaysia.

“Ya, pemenuhan kebutuhan mereka dari Malaysia?,” sebut Nono.
Penjelasan Nono sedikit melebar. Menurut dia, misalnya saja terkait rencana 10 desa di perbatasan Long Apari di Kabupaten Mahakam Ulu, Kaltim dengan Malaysia. Nono menyatakan ia telah memberi pemaparan ke institusi dan instansi terkait di Jakarta, di hadapan 18 kementerian, terkait kondisi riil yang terjadi di perbatasan Malaysia.

“Persoalan krusial di perbatasan diantaranya persoalan ekonomi, pendidikan, air bersih, infrastruktur dan energi listrik. Mereka di perbatasan perlu perhatian. Dari kementerian akan meninjau ke perbatasan,” terangnya.

Catatan koran ini, sederetan pejabat pemerintahan, sebelumnya telah berulang kali mengunjungi perbatasan, melihat dari dekat kondisi warga setempat yang berada di wilayah yang disebut-sebut sebagai garda terdepan bangsa. Namun, realisasi dari kunjungan itu nyaris tak membuahkan hasil bagi masyarakat yang hidup dengan fasilitas minim dan serba terbatas.

Ketika ditanya media ini apakah tak menutup kemungkinan masyarakat perbatasan mencapai titik jenuh dari upaya pemerintah meninjau perbatasan, namun manfaat dari kunjungan itu tidak terealisasi, Nono tidak menampik.

“Soal mencapai titik jenuh, bisa jadi begitu. Tapi masyarakat tegas bahwa merah putih di dadaku,” jawab dia.
Kepala Penerangan Kodam VI/Mulawarman, Kol Chb Totok Suratman juga menegaskan, hingga lini, data dikantongi TNI AD, tak ada warga Lumbis yang berpindah kewarganegaraan Malaysia.

“Data yang kita peroleh tidak ada. Yang ada hanya eksodus non-permanen,” tegas Totok.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan Kepala Keluarga (KK) warga di 10 desa di Kecamatan Lumbis Ogong, seperti Desa Labang, Desa Panas dan Desa Tao Lumbis eksodus ke Malaysia. Alasan mereka, eksodus kembali mencuat dilatari persoalan ekonomi yang tak kunjung sejahterakan mereka yang bermukim di perbatasan NKRI.

Daud: Tak Benar Jika Warga Lumbis Eksodus

NUNUKAN – Camat Lumbis Ogong, Nunukan, Daud kepada Koran Kaltara juga membantah isu eksodus warganya ke Malaysia. “Jadi begini, kalau disebut eksodus tidak ada. Hanya saja, kegiatan masyarakat keluar masuk lewat sungai perbatasan Malaysia itu memang ada. Masyarakat kita pergi cari kerja pulang pergi dan berusaha mencari kayu gaharu. Kalau eksodus untuk jadi warga negara Malaysia tidak benar,” ucap Daud.

Ia mengungkapkan, Kecamatan Lumbis yang merupakan induk dari Lumbis Ogong telah ada sejak tahun 1960 silam, dibawah Pemkab Bulungan. Awalnya, di Kecamatan Lumbis terdapat 89 desa yang teregistrasi di pusat ada sebanyak 77 desa. Sehingga, desa lain dihapus dengan sendirinya. Kala itu, masih zaman konfrontasi.

“Kebetulan saya dapat informasi di Desa Tinapat, Simantipal itu ada warga yang eksodus. Sebenarnya tidak ada. Saat pendataan desa, ada beberapa desa yang dihapus, tapi masih berada di wilayah Indonesia, Mungkin, itu yang disebut eksodus. Kalau kegiatan sekarang, yang ada di perbatasan, masyarakat kerap mencari nafkah ke Malaysia, seperti Nunukan Tawau atau Sebatik Tawau, ” ucapnya.

Ia juga menegaskan, informasi eksodus itu tak benar, jika masyarakat Lumbis Ogong datang untuk mengunjungi keluarganya di Malaysia, hal itu dibenarkan. Meski terkadang setiap hari bisa 30 hingga 40 orang melintas ke Malaysia untuk kunjungi sanak saudara mereka.

“Tapi, tiga hari hingga sepekan dan paling lama sebulan, mereka kembali lagi ke Lumbis Ogong. Selama ini, sudah terjalin hubungan emosional yang harmonis dengan keluarga mereka di Malaysia,” tambahnya.

Posted from WordPress for BlackBerry.

(Visited 56 times, 1 visits today)
Tags:

Leave a Reply