Lomba Perahu Dayung di Sungai Kayan Tanjung Selor Bulungan

lomba-dayung-sungai-kayanPekan Budaya Daerah 2014 telah dibuka Minggu (12/10) kemarin dan ditandai dengan lomba khas daerah, yakni loma perahu dayung. Tidak tanggung-tanggung, dalam lomba itu diikuti puluhan peserta berasal dari 7 kecamatan. Lomba perahu merupakan salah satu lomba yang wajib digelar setiap Pekan Budaya Daerah yang dilaksanakan 2 tahun sekali.

Bupati Bulungan, H Budiman Arifin melakukan prosesi pelepasan peserta lomba perahu dayung sekitr pukul 15.00 Wita di Sungai Kayan, kemarin memberi apresiasi atas semangat peserta memeriahkan lomba. Adapun kategori lomba putra dan putri itu terbagi tiga, disesuaikan jumlah penumpang diatas perahu, yakni 20 orang, 30 orang dan 40 orang.

“Saya memberi apresiasi kepada panitia Pekan Budaya Daerah 2014, karena jumlah peserta yang ikut serta mengalami peningkatan dibanding acara serupa dua tahun lalu. Bahkan, ada peserta putri yang ikut serta dalam lomba. Perahu dayung ini bisa jadi ikon Bulungan dan wajib digelar setiap pekan budaya,” kata Budiman kepada Koran Kaltara usai melepas secara simbolis dengan bendera start di tepi Sungai Kayan, sore kemarin.

Lomba perahu dayung menyita perhatian masyarakat Tanjung Selor dan sekitarnya. Bahkan, tepi Sungai Kayan dijejali dengan masyarakat yang sumringah menyaksikan tontotan khas di Tanjung Selor.

Sementara itu, Ketua Panitia Lomba, Martin menambahkan bahwa lomba perahu tahun ini diikuti hampir seluruh perwakilan dari setiap kecamatan, kecuali Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bunyu dan Peso Hilir yang tidak ikut lomba tersebut. “Sesuai data peserta lomba akan bertanding sebanyak 40 group, terbagi beberapa kelas, mulai kelas muatan 20 hingga 50 orang. Lomba berlangsung hingga Senin (13/10),” tambahnya.

Upacara Lemiwa Lepas Peserta Lomba

TANJUNG SELOR – Ada yang berbeda saat pembukaan acara lomba perahu dayung Pekan Budaya Daerah 2014 di Bulungan. Pasalnya, tahun ini digelar upacara Meniwa yang dipertunjukkan dihadapan bupati dan tamu serta undangan yang hadir sesaat sebelum melepas peserta perahu dayung. Salah satu upacara sakral adat etnis Dayak itu biasanya digelar sebelum berperang, kali ini bukan prajurit perang yang diberkati, namun seluruh peserta lomba perahu dayung.

Ketua Panitia Lomba Perahu, Martin kepada Koran Kaltara menjelaskan, upacara tersebut diakui baru pertama kali digelar pada kalendar budaya rutin Pemkab Bulungan. Hal ini tak lain merupakan permintaan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bulungan, Datuk Jamlus yang pernah melihat pertunjukan upacara Lemiwa digelar di Australia saat pekan budaya Indonesia di Kota Melbourne.

“Upacara Lemiwa dilaksanakan atas permintaan kepala Dispar Bulungan, karena pernah melihat upacara serupa di Kota Melbourne. Saat kami dengar, kami terkejut upacara adat juga digelar di luar negeri, sementara daerah asli belum pernah menggelar.

Meski agak berbeda fungsinya, kami berharap upacara lemiwa bisa ditradisikan dalam lomba perahu,” ungkap Martin, Minggu (12/10) kemarin. Sementara itu, Atung salah satu tokoh adat etnis Dayak menambahkan, upacara lemiwa merupakan ritual yang digelar sebelum prajurit berangkat perang. Tujuannya, agar keberanian para prajurit meningkat. Selain itu, upacara itu biasanya gunakan media darah ayam atau darah babi. Namun, seiring perkembangan zaman, berubah gunakan air.

“Upacara ini bertujuan memohon pertolongan kepada yang maha kuasa dengan korbanan ayam dan babi, kemudian dicipratkan kepada prajurit perang. Seiring perkembangan zaman dan masuknya agama, akhirnya melarang gunakan media darah. Karena itu, kami gunakan air yang sudah dibacakan doa,” tambah Atung.

Sumber : KoranKaltim

Posted from WordPress for BlackBerry.

(Visited 277 times, 3 visits today)
Tags:

Leave a Reply