Pertunjukan Adat Bulungan Pada Pekan Budaya Irau Malinau 2014

Pertunjukan Adat Bulungan Pada Pekan Budaya Irau Malinau 2014

Pertunjukan Upacara Adat Bulungan dan Adat Tahol sebagai penutup dalam rangkaian acara pertujukan Adat HUT Kab. Malinau dan Irau pada Sabtu (25/10). Adat Bulungan memilih prosesi Adat Betimbeng untuk dipertunjukkan dalam HUT Kab. Malinau dan Irau. Adat Betimbeng adalah upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bulungan. Upacara tersebut sering dilakukan pada anak bayi yang lahir pada bulan syafar (sepor). Hal tersebut dilakukan 7 hari atau 14 hari setelah bayi tersebut dilahirkan.

Upacara Adat Betimbeng adalah suatu keharusan untuk dilakukan meskipun tidak ada satu perintahpun untuk melakukannya. Namun sudah menjadi mitos yang berkembang pada masyarakat Bulungan, maka adat tersebut dilestarikan dan menjadi tradisi secara turun-temurun. Bulan syafar menurut mitos tersebut adalah bulan nahas sehingga setiap  bayi yang lahir pada bulan syafar diyakini akan menjadi keras dalam berprinsip. Untuk mengimbangi hal tersebut, dilakukan upacara timbangan (timbangan ayun) pada bayi tersebut.

Pada prosesi Adat timbangan ayun, si orang tua wajib menyiapkan beberapa jenis tumbuhan, makanan serta berbagai kebutuhan dari bayi diantaranya bayam, kangkung, ketan, timbangan, sapot (ayunan anak), beras dan lain-lain. Jenis timbangan ayun ini mempunyai makna agar bayi tersebut kelak mandiri tanpa ketergantungan dengan pihak lain serta mampu menjadi spirit bagi keluarga dan orang banyak dan diharapkan agar bayi tersebut kelak hingga berumah tangga selalu diberikan rezeki dari Allah SWT. Sedangkan timbangan ayun dengan batu, parang dan air diharapkan agar bayi tersebut kelak mempunyai jiwa serta keras dalam hal yang prinsip, tajam dalam pemikiran serta dingin hatinya sedingin air yang menyatu dalam prosesi upacara Betimbeng.

Adapun makna daripada bahan dan perlengkapan tersebut di atas seperti sayur-sayuran adalah supaya dapat memberi manfaat yang baik dalam kehidupan sehari-hari, mempunyai jiwa yang lemah lembut, kesejukan hati dan mempunyai prinsip yang baik serta luhur dalam hidup. Selain itu agar bayi tersebut tumbuh menjadi orang yang bermanfaat bagi orang tuanya, masyarakat dan agamanya. Peralatan Pendudu’ setelah Adat Betimbeng dilaksanakan maka akan diberikan kepada pengguling (pengasuh) bayi tersebut. Si bayi yang ditimbang ini, setiap rabu akhir bulan syafar selalu dilakukan upacara prosesi Adop-adop (menghadap nasi hitam dan ketupat) hingga bayi tersebut beranjak dewasa sampai tua dan bercucu. Adat istiadat ini setiap tahun dilaksanakan. Begitulah prosesi Adat Betimbeng dari Adat Bulungan dipertunjukkan untuk menunjukkan bahwa setiap Adat memiliki cirri khas masing-masing yang perlu kita hargai dan lestarikan.

(Visited 108 times, 1 visits today)

Leave a Reply