Pertunjukan Etnis Tionghoa dan Adat Lundayeh Pada Acara Irau Malinau ke 8

Pertunjukan Etnis Tionghoa dan Adat Lundayeh Pada Acara Irau Malinau ke 8 -

Menginjak hari ke empat perayaan HUT Kab. Malinau dan Irau, Di tampilkan pementasan Upacara Budaya Dayak Lundayeh yang merupakan satu dari sekian suku Dayak yang ada di Kab. Malinau. Pementasan tersebut dihadiri sekitar 1000 orang dari berbagai daerah bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Upacara dimulai dengan Neteg Tawaq yaitu menanti kedatangan Bupati dan rombongan dengan bunyi-bunyian Gong. Bupati dan rombongan disambut dan diiringi menuju pintu gerbang Irau dengan tarian penyambutan sebagai penghormatan kepada pemimpin dan para tamu. Mengawali rangkaian upacara, digelar Neteng Nengei yaitu upacara untuk memohon penyertaan dan perlindungan Yang Maha Kuasa Penguasa Alam Semesta agar upacara dapat berlangsung tanpa rintangan, serta lantunan do’a untuk mendatangkan kebaikan dan harapan, membawa kesejahteraan dan keamanan. Memasuki tempat upacara, Bupati dan rombongan dipersilahkan memetik masing-masing sehelai daun sebagai ucapan selamat datang dan diperhitungkan sebagai Sakai atau tamu yang akan dilayani secara khusus selama acara berlangsung dan mendapatkan perlindungan serta keamanan selama mengikuti upacara adat dan pesta yang akan diselenggarakan.

Pada acara puncak yaitu Nuwi Ulung. Upacara ini melambangkan persatuan dan kesatuan dari masyarakat Malinau yang didirikan dari semua etnis dan kelompok masyarakat yaitu dari Lundayeh, Kenya, Kayan, Tidung, Bulungan, Tingalan, Tahol, Abay, Punan, Belusu, Batalyon 614/Rjp, Kodim 0910/Mln, Brimob dan lain-lain. Ulung adalah sebuah kayu besar yang nantinya akan diberdirikan tegak dengan cara ditarik dengan empat tali. Pada saat Ulung berdiri, semua tali tetap dalam keadaan kencang sebelum selesai ditimbun. Setelah Ulung berdiri, maka buaya tanah sebagai lambang dari dua kekuatan di darat dan di laut dimusnahkan yang ditampilkan melalui tarian pemusnahan dan pemotongan sang penguasa laut dan darat yang diiringi dengan tari-tarian mengelilingi buaya, sebagai kegembiraan karena telah menaklukkan kekuatan yang selalu mengancam kehidupan manusia. Setelah tarian pemusnahan dua kekuatan yang mengancam kehidupan ditampilkan, selanjutnya ditampilkan Fekuab, yang mengisahkan tentang pemusnahan sang kekuatan. Setelah pemusnahan kekuatan dimusnahkan, semua kehidupan kembali normal dan hari esok bergantung dengan dengan apa yang akan kita buat pada hari ini.

Di akhir acara digelar upacara Maman Remarar, yaitu pesta yang secara simbolik menggambarkan kewajiban dan tanggung jawab dari anak-anak, menantu dan cucu terhadap orang tua dan menyimbolkan tanggung jawab anak-anak terhadap orang tua. Upacara ini diselenggarakan bila orang tua berusia lanjut dimana pada usia lanjut orang tua tidak bisa bekerja dan mencari nafkah.

Pada sore harinya digelar acara Paguyuban Etnis Tionghoa. Acara yang paling dinanti dalam rangkaian acara tersebut adalah penampilan Barongsai. Semua yang hadir dalam acara tersebut sudah tidak sabar untuk menunggu pertunjukan Barongsai. Para pemeran Barongsai berasal dari Berau, Tanjung Selor dan Tarakan. Ketika Barongsai mulai tampil, masyarakat yang hadir langsung berkumpul disekitar tempat berlangsungnya pertunjukan. Sesekali Barongsai menampilkan tingkah lucu dan membuat para pononton tertawa terpingkal-pingkal. Dan juga sering membuat para penonton berteriak histeris karena melihat tingkah Barongsai yang membuat jantung berdetak kencang. Di akhir pertunjukan, Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si beserta rombongan memberikan ampao kepada Barongsai tak terkecuali Dandim 0910/Mln.

sumber : kodimmalinau.com

(Visited 169 times, 1 visits today)
Tags:

Leave a Reply