Apakah benar, asuransi adalah membeli uang besar milik perusahaan asuransi dengan uang kecil kita ?

Semoga di tahun 2016 ini, anda beserta keluarga diberikan kesehatan dan kemudahan dalam mencapai harapan-harapannya.
Oh iya, Apakah ditempat anda bekerja saat ini menggunakan asuransi umum untuk mengcover aset perusahaannya?
Misalkan saat perusahaan mendistribusikan product, maka perusahaan mengunakan pihak asuransi untuk mengcovernya jika didalam perjalanan product mengalami kerusakan. Mesin manufakture yang menggunakan asuransi, jika ada kerusakan maka pihak asuransi yang mengcovernya. Atau saat ini anda sedang mengambil KPR, dan pihak KPR memberikan asuransi untuk mengcover jika suatu hal terjadi pada nasabah yang meninggal, maka cicilan lunas ?
Jadi seberapa jauhkan pentingnya asuransi?
Saya sendiri berlatar belakang industrial engineering. Didalam mata kuliah pilihan saya terdapat manajemen risiko dan saya mendalami manajemen risiko. Seperti kita ketahui bahwa risiko bisa kita minimalisir, antisipasi tetapi tidak bisa dihilangkan 100 %.
Perusaahaan ditempat kita bekerja menggunakan pihak asuransi untuk mengcover asetnya, karena biaya risiko sangat tinggi dan dampaknya sangat berpengaruh bagi keberlangsungan usaha atau kepuasan konsumen.
Sebagai contoh jika mesin manufakture yang rusak dan harga mesin tersebut sebesar Rp 50 Milyar. Maka tanpa asuransi, pihak perusahaan akan mengeluarkan Rp 50 M untuk mengganti mesin baru.
Dampaknya adalah
1. Jika cashflow perusahaan tidak lancar dan tidak sanggup membeli mesin baru maka produksi pasti stop.
2. Jika cashflow perusahaan lancar dan sanggup membeli mesin baru, maka terjadi pemborosan.
Asuransi diperlukan jika biaya risikonya lebih besar dibandingkan berapa yang harus kita keluarkan (premi asuransi)
Mari kembali kepada kehidupan keluarga anda. Berikut saya berikan contoh keluarga yang mengambil asuransi dan tidak Misalkan :
Bapak A memiliki 3 anak, pendapatan keluarga Rp 10 juta/bln dan pengeluaran Rp 8 juta/bulan. Suatu hari pencari nafkah mengalami sakit kritis dan membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Maka perusahaan Bapak A bekerja akan mengcovernya, betulkah ?
Yes betul. Tapi ada yang anda lupakan.
Rata-rata orang sakit kritis mengalami masa pengobatan sekitar 5 tahun. Didalam kondisi seperti ini, yakinkah bahwa perusahaan anda akan tetap memberi penghasilan walaupun anda fokus pada pengobatan dan jarang bekerja?
Mari berpikir logis dan rill dari sisi perusahaan kita bekerja. Perusahaan tentunya hanya menggunakan orang yang bisa produktif, jika kita sakit dan membutuhkan waktu pengobatan 1 sd 5 bulan, perusahaan mungkin saja tetap menggaji penuh kita.
NAMUN, jika pengobatan yang kita lakukan lebih dari 6 bulan dan berefek kita tidak bisa bekerja sama sekali. Apakah perusahaan akan mempertahankan kita ??  Anda sudah tau jawabannya.
Ada 2 desakan yang pasti terjadi jika hal ini menimpa kita
1. Biaya pengobatan
2. Biaya kebutuhan keluarga
Ketika Bapak A meninggal disaat anak anak-anak masih kecil, ada 2 hal yang pasti terjadi.
  1. Istri bekerja menggantikan suami ( biasanya istri banting tulang untuk mendapatkan penghasilan yang sama dengan suami. Jika didalam keluarga istri sudah bekerja, hal ini tidak terlalu masalah, untuk menyesuaikan pengeluaran keluarga istri  bisa bekerja lemburan dsb. Namun bagaimana dengan istri yang berlatar belakang hanya ibu rumah tangga ?  Jika mencari pekerjaan pasti sangat sulit mendapatkan pekerjaan, karena perusahaan melihat latar belakang, skill dsb. Jika membuka bisnis, maka diperlukan modal dan belum tentu langsung berhasil karena dibutuhkan pengalaman bisnis (strategi marketing, manajemen, produksi dsb)
  2. Anak tidak terurus, karena istri menjadi pencari nafkah utama. Tidak ada waktu lagi untuk mendampingi anak dalam belajar.
Baca Juga :   Bagaimana Cara Klaim Asuransi kita dijamin 100 % Approve
Berbeda jika Bapak A menyisihkan penghasilannya untuk mengambil asuransi. Saat bapak A mengalami sakit kritis maka pihak asuransi akan memberikan santunan pengobatan dan biaya hidup sehari-hari, nilainya disesuaikan dengan premi yang disetorkan. Bapak A cukup fokus kepada pengobatan saja, karena pihak asuransi akan menjalankan tugasnya dalam mengcover nasabah.
Jika Bapak A meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan tidak perlu khawatir untuk keberlangsungan hidupnnya. Karena pihak asuransi akan memberikan santunan meninggal.
Kesimpulannya adalah Biaya risiko sangatlah mahal, anda bisa mengumpulkan warisan atau dana darurat menggunakan uang sendiri atau uang pihak asuransi. Tentunya kita lakukan ini untuk keluarga yang kita cintai. Banyak sekali orang tua yang terbaring di rumah sakit, bukan memikirkan kesembuhannya saja tetapi “bagaimana dengan kehidupan keluarga mereka”. Akibatnya keadaan orang tersebut malah tambah memburuk.
Kita harus menyadari bahwa keluarga adalah titipan Tuhan di dunia ini, tanggung jawab suami adalah mengusahakan bagaimanapun agar titipan Tuhan tersebut selalu dalam keadaan baik.  Rejeki akan selalu datang bagi mereka yang berniat baik untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
(Visited 100 times, 1 visits today)

Leave a Reply