Dalam Kondisi Apapun, Kita Membutuhkan Asuransi

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia Adi Pramana mengatakan, peristiwa jatuhnya crane di Masjidil Haram Mekkah mengingatkan kita bahwa sesungguhnya risiko itu dapat terjadi kapan pun, dimana pun dan bisa menimpa kepada siapa pun.

Para korban dari Indonesia yang meninggal pada tragedi tersebut mendapat santunan asuransi dari perusahaan asuransi syariah, produk yang mereka beli adalah asuransi jiwa dan kecelakaan diri untuk jamaah haji.

Produk ini memberikan perlindungan bagi jemaah haji dan petugas haji atas risiko meninggal dunia karena sebab sakit atau pun kecelakaan serta risiko Cacat Tetap Total hingga Sebagian.

Masa perlindungan asuransi berlaku sejak jemaah haji atau petugas meninggalkan rumah menuju embarkasi atau bandara, selama dalam perjalanan ke tanah suci sampai kembali lagi ke rumah masing-masing. Asuransi itu sangat penting dimiliki oleh para jamaah untuk berjaga-jaga dari berbagai risiko yang mungkin akan terjadi.

Adi mengatakan, sebenarnya konsep utama dari asuransi syariah adalah saling tolong menolong antara peserta, jadi yang sehat menolong yang sakit, yang beruntung membantu yang kurang beruntung. Mekanisme risk sharing ini sejalan dengan perintah Rasulullah SAW untuk saling tolong menolong sesama muslim yang sedang ditimpa musibah.

Asuransi sekarang semakin terjangkau dengan hadirnya produk asuransi mikro. Di AASI sendiri sedang dikembangkan produk asuransi mikro bernama SiBijak, kontribusi/preminya sangat ringan yaitu hanya sebesar Rp 50.000 per tahun, info lengkapnya dapat ditemukan di website resmi AASI http://sibijak.aasi.or.id.

Selain itu berdasarkan data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia atau AAJI, jumlah tertanggung individu asuransi jiwa sampai kuartal kedua tahun ini mencapai 16,60 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 11,30 juta orang.

Baca Juga :   Daftar Perusahaan Asuransi Pendidikan Di Indonesia

Kenaikan yang signifikan 46,9% ini menunjukkan bahwa asuransi jiwa sudah merupakan suatu kebutuhan bagi kita untuk memperoleh perlindungan atau pun proteksi diri.

Data AAJI mengenai kinerja asuransi jiwa pada semester pertama 2015 menunjukkan bahwa pertumbuhan total pendapatan premi asuransi jiwa mencapai 26,6%, meningkat dari Rp 53,58 triliun di tahun sebelumnya sebesar Rp 67,8 triliun.

Menurut Togar Pasaribu, Pjs. Direktur Eksekutif AAJI, saat ini terjadi semacam kontradiksi, yakni pertumbuhan ekonomi melemah namun premi asuransi jiwa justru meningkat.

Sehingga belum tentu pertumbuhan premi asuransi jiwa itu berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian. Karena dalam kondisi apapun, asuransi dibutuhkan oleh masyarakat. Termasuk dalam kondisi perekonomian yang melambat seperti ini. Sebagai contoh, soal kesehatan. Dalam kondisi perekonomian tumbuh tinggi maupun melemah seperti saat ini, orang yang sakit perlu berobat. Sehingga asuransi kesehatan tetap diperlukan.

Sosialisasi mengenai pentingnya berasuransi dan juga merencanakan keuangan ini menjadi kerja besar yang dilakukan secara bersama oleh para regulator (Otoritas Jasa Keuangan) dan para pelaku industri asuransi di bawah payung Dewan Asuransi Indonesia (DAI).

(Visited 73 times, 1 visits today)

Leave a Reply