Mengapa Kita Harus Berasuransi Syariah?

Menurut Dewan Syariah Nasional atau disingkat DSN, pengertian ASURANSI SYARIAH (Ta’min, Takaful atau Tadhamun)  ialah suatu usaha untuk saling tolong menolong dan melindungi diantara sekumpulan orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian atau return untuk menghadapi resiko tertentu melalui perikatan atau akad yang sesuai dengan prinsip syariah.

Asuransi Syariah ialah sebuah sistem dimana semua peserta menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan dipakai atau digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian peserta asuransi syariah.

Peranan perusahaan asuransi syariah disini hanya sebatas pengelolaan operasional  asuransi dan investasi dari kontribusi atau dana-dana yang /dilimpahkan/ diterima kepada perusahaan.

Asuransi syari’ah bisa disebut juga dengan asuransi ta’awun yang artinya saling membantu atau tolong menolong. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa Asuransi ta’awun dasar prinsipnya adalah dasar syariat yang saling toleran terhadap sesama umat manusia untuk meringankan bencana yang dialami peserta dan menjalin kebersamaan.

Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2, yang artinya :

“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”

MENGAPA HARUS MEMILIH ASURANSI SYARIAH?

Asuransi yang selama ini dipakai atau digunakan oleh mayoritas masyarakat adalah asuransi konvensional bukan merupakan asuransi yang dikenal oleh para pendahulu dari kalangan ahli fiqh, karena tidak termasuk transaksi yang dikenal oleh fiqh Islam, dan tidak pula dari kalangan para sahabat yang membahas hukumnya.

Terjadi perbedaan pendapat ulama tentang asuransi konvensional atau non syariah yaitu disebabkan oleh perbedaan ilmu dan ijtihad mereka. Alasannya antara lain sebagai berikut :

Baca Juga :   Inilah Alasan Orang Tua Tidak Punya Asuransi Jiwa
  1. Pada transaksi asuransi konvensional terdapat ketidaktahuan (jahalah) dan ketidakpastian ( ghoror), dimana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi.
  2. Di dalamnya terdapat pula riba atau syubhat riba. Hal ini akan lebih jelas di dalam asuransi jiwa, dimana seseorang yang membeli produk polis asuransi harus membayar sejumlah kecil dana/premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang, namun bisa saja dia tidak akan mendapatkannya. Jadi pada intinya transaksi ini adalah tukar menukar uang, dengan adanya tambahan dari premi yang dibayarkan, maka jelas ini mengandung unsur riba.
  3. Asuransi jenis ini termasuk maysir (perjudian), karena salah satu pihak membayar sedikit uang untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dengan cara untung-untungan atau tanpa pekerjaan. Jika terjadi kecelakaan maka ia berhak mendapatkan semua harta atau uang yang telah dijanjikan, tapi jika tidak maka ia tidak akan mendapatkan apapun juga alias nihil.

Melihat ketiga penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa transaksi di dalam asuransi konvensional yang selama ini kita ketahui dan kenali, belum sesuai dengan transaksi yang dikenal dalam fiqh Islam. Asuransi syari’ah dengan prinsip saling bantu membantu, dapat diterima oleh masyarakat dan berkembang cukup pesat pada beberapa tahun ini.

Asuransi syariah dengan perjanjian di awal yang transparan dan jelas serta aqad yang sesuai prinsip syariah, dimana semua dana dan premi asuransi yang terkumpul (atau disebut juga dengan dana tabarru’) akan dikelola secara profesional oleh perusahaan asuransi syariah melalui investasi syar’i yang berlandaskan prinsip syariah.

Pada akhirnya semua dana tabbaru yang dikelola tersebut nantinya akan dipergunakan untuk menghadapi dan mengantisipasi terjadinya bencana/musibah/klaim yang terjadi diantara para peserta asuransi.

Baca Juga :   Cara Memilih Asuransi Pendidikan yang Tepat

Melalui asuransi syari’ah ini, kita harus mempersiapkan diri secara finansial dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip transaksi yang sesuai dengan kaidah fiqh Islam. Jadi tidak ada keraguan dalam berasuransi syari’ah.

PERBEDAAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DAN SYARIAH

Ada beberapa perbedaan mendasar antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah. Perbedaan tersebut ialah :
Asuransi syari’ah memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dari MUI yang bertugas mengawasi produk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi dananya. Dewan Pengawas Syariah ini tidak akan ditemukan dalam prinsip asuransi konvensional.

Akad yang dilakukan pada asuransi syari’ah berdasarkan saling tolong menolong atau ta’awun. Sedangkan asuransi konvensional berdasarkan prinsip jual beli.

Investasi dana pada asuransi syari’ah berdasarkan Wakallah bil Ujrah dan terbebas dari Riba. Sedangkan pada asuransi konvensional memakai sistem bunga (riba) sebagai bagian penempatan investasinya sedangkan
Kepemilikan dana asuransi syari’ah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelola sesuai syariah. Pada asuransi konvensional, premi yang terkumpul dari nasabah menjadi milik perusahaan. Sehingga, perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya.

pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan. Sedangkan Pembayaran klaim pada asuransi syari’ah diambil dari dana kebijakan atau tabarru’ seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan dan diinfaqan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah.

pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan. Sedangkan Pembagian keuntungan pada asuransi syari’ah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan.

 

asuransi syariah sinarmas, asuransi syariah pdf, asuransi prudential syariah, asuransi syariah al amin, asuransi syariah adalah, asuransi syariah di indonesia, asuransi jiwa syariah terbaik

(Visited 296 times, 1 visits today)
Tags:

Leave a Reply